***** Seng Nggawe Mas Muhlisin*****. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pada era 90-an, produksi sarang burung walet menjadi primadona. Tarian yang menggambarkan perilaku burung walet pun diciptakan dan kemudian menjadi muatan lokal wajib di Sekolah Dasar kala itu.

Bahkan pernah ada pementasan tari walet oleh 1000 anak di Stadiun Candradimuka, Kebumen saat era Bupati Amin Sudibyo.

Kebumen memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil sarang walet alami terbesar di Indonesia. Keberadaan sarang walet di Gua Karangbolong pantai selatan Jawa menjadi bukti. Bahkan sempat, hampir 10 persen pendapatan asli daerah disumbang dari sarang walet.

Dan demi semakin mengukuhkan predikat tersebut, dibuatlah sebuah monumen walet yang diletakkan tepat di tengah kota Kebumen. Gambar burung walet juga turut tercantum dalam logo Kabupaten Kebumen. Namun, apakah predikat tersebut benar-benar masih layak disandang hingga sekarang?



Keampuhan
Sarang walet dihasilkan dari air liur burung walet. Burung walet adalah burung berwarna gelap, berukuran kecil atau sedang serta mempunyai sayap yang sempit dan runcing. Burung ini juga mempunyai kecepatan terbang yang cukup tinggi  dan suka meluncur.

Kebiasaan uniknya, burung ini tidak hinggap di pohon tapi malah hidup di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang, sampai gelap. Langit-langit gua atau rumah digunakan untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.

Kandungan sarang walet diyakini mempunyai keampuhan. Di antaranya, menjaga kesegaran tubuh, meningkatkan vitalitas, obat awet muda, memelihara kecantikan dan menghambat kanker. Bahkan berdasar penelitian, salah satu senyawa turunannya, azitothymidine, bisa melawan AIDS.

Tak heran bila harga sarang walet sangat mahal. Di pasaran dunia, sarang walet dari gua dihargai 1.000-1.500 USD (sekitar 10-15 juta rupiah) per kilogram. Sarang walet dari rumahan lebih mahal lagi, mencapai 1.800-2000 dolar (sekitar 18 - 20 juta rupiah) per kilogram.
Produksi Terus Menurun
Berkah sarang walet ternyata tidak selamanya stabil. Tiap tahun, sarang burung walet yang diunduh dari gua Karangbolong terus mengalami penurunan. Tercatat pada 2000, sarang burung walet yang diunduh mampu mencapai 163,25 kg. Namun pada tahun 2007, sarang burung yang diunduh turun tajam menjadi 42,82 kg. Dan pada 2008 lalu, hasil unduhan hanya 22,16 kg saja.

Jelas, ini berdampak mengurangi pendapatan asli daerah.
Setelah ditelusuri, ada dua faktor utama yang menyebabkan unduhan sarang burung walet turun drastis. Di antaranya, populasi burung walet di Karangbolong yang semakin berkurang.

Penyebabnya, penebangan hutan di sekitar gua menyebabkan jumlah pakan alami burung menjadi berkurang. Dampak lain penebangan pohon adalah adanya perubahan suhu udara di sekitar mulut goa. Padahal walet hanya akan hidup jika habitatnya bersuhu dingin dan lembab.

Selain itu, iklim yang kadang tidak bersahabat saat akan dilangsungkan pegunduhan. Untuk diketahui, pengunduhan sarang walet di Gua Karangbolong Kebumen dilakukan sebanyak empat kali. Pada mangsa kapitu (bulan Januari), mangsa kasanga (Maret), mangsa karo (Agustus) dan mangsa kapat (Oktober). 

Pengunduhan sering gagal atau diundur gara-gara ombak di pantai selatan yang terlalu besar sehingga membahayakan keselamatan para pengunduh. Pengunduhan baru akan dilaksanakan jika cuaca benar-benar sudah bersahabat.

Maklum, sarang walet terletak jauh di dalam gua di kedalaman sekitar 50 meter dari mulut gua sehingga sulit dijangkau.

Untuk menuju ke mulut gua, pengunduh harus menuruni tebing dengan kecuraman hampir 90 derajat. Setelah itu, untuk memasuki gua, pengunduh harus melalui titan bambu yang sangat licin. Mulut gua ini sangat rentan kemasukan air jika terjadi ombak besar.

Tak hanya itu,  juga dituntut mampu menahan ayunan galah bambu sepanjang 5 meter sebagai alat yang digunakan untuk melepas sarang burung dari dinding gua.
Wana Wisata
Penurunan sarang walet jelas membutuhkan solusi nyata. Penebangan pohon di sekitar gua menjadi faktor utama berkurangnya populasi burung. Ini mesti menjadi perhatian, mengingat faktor inilah yang saat ini bisa dikendalikan.

Peran pemerintah daerah di sini menjadi kunci. Bagaimana secara cerdas dapat mendorong masyarakat sekitar pantai untuk turut merawat hutan di sekitar, bukan malah merusak.

Pendekatan yang intensif dan kontinu kepada berbagai pihak di sekitar pantai mesti terus dilakukan dengan cara menjalin komunikasi dua arah antara aparat Pemda dan masyarakat setempat.

Membuat daerah sekitar area pengunduhan menjadi wana wisata barangkali menjadi solusi alternatif yang dapat menjembatani kedua belah pihak.

Pemerintah dapat mengendalian penebangan liar, sementara masyarakat sekitar juga memperoleh keuntungan dari wisatawan yang datang. Akan lebih bagus lagi jika prosesi pengunduhan walet turut dijadikan paket wisata budaya yang menarik bagi masyarakat.

Pasalnya, prosesi pengunduhan sarang walet di gua Karangbolong harus melalui ritual sesaji dan pagelaran kesenian tradisional.

Mulai pagelaran wayang kulit di pendapat Karangbolong, pagelaran tayub, pembersihan pakaian lengkap Ratu Kidul sebagai penguasa laut selatan hingga pemotongan kerbau untuk pesta kenduri saat pementasan tayub dan wayang kulit. Sayang bila potensi ini tidak dimanfaatkan secara optimal.

Akhirnya, adalah tanggung jawab kita pula untuk menjaga agar walet di Kebumen tetap berjaya. Jika tidak, barangkali suatu saat nanti logo Kebumen akan diganti mengingat walet yang menjadi kebanggaan sudah tinggal kenangan. (80)
                                                                                                By: Maz Muhlisin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: